Sabtu, 15 Juni 2013

ASUHAN KEPERAWATAN CA LARING



ASUHAN KEPERAWATAN
CA LARING

1.    PENGERTIAN
Carsinoma laring adalah pertumbuhan dan pembelahan sel khususnya sel skuamosa laring yang tidak normal/abnormal yang terbatas pada pita suara yang bertumbuh perlahan karena suplai limpatik yang jarang ketempat sekitar jaringan seperti epiglotis, pita suara palsu dan sinus-sinus piriformis yang banyak mengandung banyak pembuluh limfe dan meluas dengan cepat dan segera bermetastase kekelenjar limfe leher bagian dalam.
Karsinoma laring adalah karsinoma ( keganasan sel skuamosa pita suara dan jaringan sekitarnya ( C. Long Barbara : 408 ).
Ca laring merupakan tumor yang ketiga menurut jumlah tumor ganas dibidang THT dan lebih bannyak terjadi pada pria berusia 50-70 tahun. Yang sering adalah jenis karsinoma sel skuamosa (Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3. Hal : 136).

2.    ETIOLOGI
Penyebab kanker laring belum diketahui dengan pasti.Dikatakan oleh para ahli bahwa perokok dan peminum alcohol merupakan kelompok orang – orang dengan resiko tinggi terhadap terjadinya kanker laring.Penelitian epidemiologic menggambarkan beberapa hal yang diduga menyebabkan terjadinya kanker laring yang kuat ialah rokok , alkohol, dan oleh sinar radioaktif. Namun ada beberapa faktor yang diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker, sebagai berikut :
a.    Faktor Lingkungan
Merokok sigaret meningkatkan resiko terjadinya kanker paru – paru, mulut, laring (pita suara), dan kandung kemih darah, seperti Leukemia.
b.    Faktor Makanan yang mengandung bahan kimia.
Makanan juga dapat menjadi faktor risiko penting lain penyebab kanker, terutama kanker pada saluran pencernaan. Contoh jenis makanan yang dapat menyebabkan kanker adalah Makanan yang diasap dan diasamkan (dalam bentuk acar) meningkatkan resiko terjadinya kanker lambung. Minuman yang mengandung alkohol menyebabkan berisiko lebih tinggi terhadap kanker kerongkongan. Zat pewarna makanan. Logam berat seperti merkuri yang sering terdapat pada makanan laut yang tercemar seperti: kerang dan ikan. Berbagai makanan (manis,tepung) yang diproses secara berlebihan.
c.    Virus
Virus yang dapat dan dicurigai menyebabkan kanker laring antara lain Virus Epstein-Bar (di Afrika) menyebabkan Limfoma Burkitt, sedangkan di China virus ini menyebabkan kanker hidung dan tenggorokan. Ini terjadi karena faktor lingkungan dan genetik.
Menurut Bunner dan Suddart, Barbara C. Long, Robbin dan Kumar serta D. Thone R. Cody. Faktor-faktor predisposisi yang memicu munculnya Ca laring meliputi :
1.    Tembakau ( berasap / tidak )
2.    Alkohol serta efek kombinasinya
3.    Penajaman terhadap obseton
4.    Gas mustard
5.    Kayu, kulit dan logam
6.    Pekerjaan yang menggunakan suar berlebihan (penyanyi rock, ustad, dosen )
7.    Laringitis kronis
8.    Defisiensi nutrisi ( Riboflavin )
9.    Riwayat keluarga ca laring
10.     Asap debu pada daerah industri
11.     Laringitis kronis
12.     Perokok diatas 40 tahun atau lebih
13.     Lebih sering pada laki-laki daripada wanita
14.     Epiglotis
15.     Hemophilus influenzae

3.    PATOFISIOLOGI
Kanker laring yang terbatas pada pita suara tumbuh perlahan karena suplai limfatik yang jarang. Di tempat manapun yang kering ( epiglottis, pita suara palsu, dan sinus-sinus piriformis ). Banyak mengandung pembuluh limfe, dan kanker pada jaringan ini biasanya meluas dengan cepat dan segera bermefastase ke kelenjar limfe leher bagian dalam. Orang-orang yang mengalami serak yang bertambah berat atau suara serak lebih dari 2 minggu harus segera memeriksakan dirinya. Suara serak merupakan tanda awal kanker pita suara, jika pengobatan dilakukan pada saat serak timbul ( yang disebabkan tumor sebelum mengenai seluruh pita suara ) pengobatan biasanya masih memungkinkan.
Tanda-tanda metastase kanker pada bagian laring biasanya berupa pembengkakan pada leher, nyeri pada jakun yang menyebar ke telinga, dispread, disfagia, pembesaran kelenjar limfe dan batuk. Diagnosa kanker laring dibuat berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik terhadap laring dengan laringoskopi langsung dan dari biopsy dan dari pemeriksaan mikroskopi terhadap laring ( C. Long  Barbara. 1996 : 408-409 ).

4.    MANIFESTASI KLINIK
Suara serak adalah hal pertama yang akan tampak pada pasien dengan kanker pada daerah glods karena tumor mengganggu pita suara selama bicara. Suara mungkin terdengar parau dan puncak suara rendah. Bunyi suara yang terganggu bukan merupakan tanda dini kanker suglotis atau supraglotis, namun mungkin pasien mengeluh nyeri dan rasa terbakar pada tenggorokan ketika minum cairan hangat atau jus jeruk.
Suatu gumpalan mungkin teraba di belakang leher, gejala lanjut , termasuk kesulitan menelan ( dsifagia ) atau kesulitan bernafas ( dipsnue ). Suara serak dan nafas bau, pembesaran nodus limfe servikal, penurunan BB dan status kelemahan umum dan nyeri yang menjalar ke telinga dapat terjadi bersama metastasis ( Brunner & Suddart, 2002 : 556-557 )

5.    PENATALAKSANAAN
Pengobatan untuk kondisi ini bervariasi sejalan dengan keluasan malignasi. Pengobatan pilihan termasuk terapi radiasi dan pembedahan. Pemeriksaan gigi dilakukan untuk menyingkirkan setiap penyakit mulut. Semua masalah yang berkaitan dengan gigi diatasi jika mungkin dan dilakukan sebelum pembedahan.
1. Terapi Radiasi
Hasil yang sangat memuaskan dapat dicapai dengan terapi radiasi pada pasien yang hanya mengalami satu pita suara yang sakit dan normalnya dapat digerakkan ( yaitu bergerak saat fonasi )
Selain itu pasien ini masih memiliki suara yang hampir normal. Beberapa mungkin mengalami kondriti ( inflamasi kartilagi ) atau stenosis, sejumlah kecil dari mereka yang mengalami stenosis nantinya membutuhkan laringotomi. Terapi radiasi juga dapt digerakkan secara pra operatif untuk mengurangi ukuran tumor
2.  Pembedahan Parsial
a. Laringektomi parsial ( laringotomi –tirotomi )
Laringektomi parsial direkomendasikan pada kanker area glotis tahap dini ketika hanya satu pita suara yang kena. Tindakan ini mempunyai angka penyembuhan yang sangat tinggi . Dalam operasi ini, satu pita suara diangkat dan semua struktur lainnya teteap utuh. Suara pasien kemungkinan menjadi parau, jalan nafas akan tetap utuh dan pasien seharusnya tidak memiliki kesulitan menelan.
b. Laringektomi supraglotis ( Horizontal )
Laringektomi supraglotis digunakan dalam penatalaksanaan tumor supraglotis. Tulang hyoid, glottis dan pita suara palsu diangkat. Pita suara kartilogi krikoid dan trakea tetap utuh. Selama operasi dilakukan di seksi leher radikal pada tempat yang sakit. Selang traketomi dipasang dalam trakea sampai jalan nafas glottis pulih. Selang traketomi ini biasanya diangkat setelah beberapa hari dan stoma dibiarkan menutup. Nutrisi diberikan melalui selang nasograstik sampai terdapat penyembuhan dan tidak ada lagi resiko aspirasi. Pasca operatif, klien kemungkinan akan mengalami kesulitan untuk menelan selama 2 minggu pertama. Keuntungan utama dari operasi ini adalah bahwa suara akan kembali pulih seperti biasa.
c. Laringektomi Hemivertikal
Dilakukan jika tumor meluas di luar pita suara, tetapi perluasan tersebut kurang dari 1 cm dan terbatas pada area subglotis. Dalam prosedur ini, kartilago tiroid laring dipisahkan dalam garis tengah leher dan bagian pita suara ( satu pita suara sejati dan satu pita suara palsu ) dengan pertumbuhan tumor diangkat. Kartilago aritenoid dan setengah kartilago tiroid diangkat. Pasien akan mempunyai selang trakeostomi dan selang nasogastrik selama operasi. Pasien beresiko mengalami operasi pasca operatif. Beberapa perubahan dapat terjadi pada kualitas suara ( sakit tenggorokan ) dan proyeksi. Namun demikian fungsi nafas dan jalan menelan tetap utuh.
d. Langektomi Total
Dilakukan ketika kanker meluas di luar pita suara. Lebih jauh ketulang hyoid, epiglottis, kartilago krikoid dan dua atau tiga cincin trakea diangkat. Lidah, dinding faringeal, dan trakea ditinggalkan. Laringektomi total membutuhkan stoma trakeal permanen. Stoma ini mencegah aspirasi makanan dan cairan ke dalam saluran pernapasan bawah, karena laring yang memberikan perlindungan spingter tidak ada lagi. Pasien tidak akan mempunyai suara lagi tetapi fungsi menelan akan normal. Laringektomi total merubah cara dimana aliran udara digunakan untuk bernafas dan berbicara. ( Brunner & Suddarth, 2002 : 557-558 )
3. Kemoterapi
Penggunaan obat untuk menangani kanker disebut kemoterapi atau agen antineoplastik. Obat ini digunakan untuk membunuh sel kanker dan menghambat perkembangannya. Semua sel baik normal maupun sel kanker berjalan mengikuti siklus sel. Agen kemoterapi bekerja pada fase siklus sel berbeda disebut siklus non spesifik, kebanyakan agen kemoterapeutik paling efektif ketika sel-sel secara aktif sedang membelah.
Kemoterapi terutama digunakan untuk mengobati penyakit sistematik daripada lesi setempat dan dapat diatasi dengan pembedahan atau radiasi. Kemoterapi mungkin di kombinasi dengan pembedahan atau terapi radiasi, atau kedua-duanya untuk menurunkan ukuran tumor sebelum operasi, untuk merusak sel-sel tumor yang masih tertinggal pasca operasi. Tujuan dari kemoterapi ( penyembuhan , pengontrolan, paliatif ) harus realistic, karena tujuan tersebut akan menetapkan medikasi yang digunakan dan keagresifan dari rencana pengobatan.
Agen kemoterapi yang digunakan pada Ca laring atau anti metabolik membunuh sel-sel kanker dengan memblok sintesis DNA dan RNA. Mereka melakukan ini dengan meniru struktur metabolik esensial secara kimiawi, yaitu : Nutrien esensial untuk metabolisme sel normal, Agen umum meliputi : Cytarabine ( ARA-C ), Floxuridine ( FUDR ), 5-Fluorourasial ( 5-FU ), Hydroxyurea ( Hydrea ), 6-Merkaptopurine ( 6-MP ), Methotrexate ( mexate ) dan 6-Thieguanin. Efek samping yang paling umum adalah meliputi stomatitis supresi sum-sum tulang dan diare.
Rute pemberian
Obat-obat kemoterapeutik mungkin diberikan melalui rute topical, oral, interval, intramuskuler, subkutan, arteri, intrakavitasi dan intratekal. Rute pemberian biasanya bergantung pada tipe obat, dosis yang dibutuhkan dan jenis, lokasi dan luasnya tumor yang diobati.
Dosis
Dosis preparat anti neoplastik terutama didasarkan pada area permukaan tubuh total pasien, respon terhadap kemoterapeutik atau terapi radiasi dahulu, fungsi organ utama dan status kinerja fisik.
4. Terapi Sistomatik
Terapi sistomatik yang diberikan meliputi :
a.    Pemberian sadatif
b.    Pemberian antiemetik
c.    Pemberian antipiretik

6.    PENGKAJIAN FOKUS
a.    PENGKAJIAN PRIMER
Data awal yang ditemukan pada klien dengan kanker laring adalah suara serak yang tidak sembuh-sembuh yang disertai dengan adanya pembesaran dan perubahan pada daerah leher. Menurut Cody D. Thaher, C. Long Barbara, Harrison, Sjmsuhidayat dan Suddart Bunner pada pengkajian akan didapatkan data sebgai berikut :
Biografi
1)   Usia              
2)   Jenis kelamin :Laki laki lebih banyak dari pada perempuan 2 : 1
3)   Pekerjaan                  :Pekerjaan yang menggunakan suara yang berlebihan, seperti penyanyi, penceramah, dosen.
4)   Alamat                      : Tinggal di daerah dengan tingkat pencemaran polusi yang tinggi, seperti tinggal di wilayah industri
Keluhan utama pada klien Ca. Laring meliputi nyeri tenggorok. sulit menelan,sulit bernapas,suara serak,hemoptisis dan batuk, penurunan berat badan, nyeri tenggorok, lemah.
b.    PENGKAJIAN SEKUNDER
1)   Pemeriksaan Fisik
a)    Keadaan umum   
b)   Tanda-tanda vital
-     Suhu
-                 TD
-                 Respirasi
-                 Nadi   
-                 Pengukuran BB
-                 Kepala 
-     Pembengkakan kelenjar limfe post dan pre aurikel
-     Leher                        
2)   Pemeriksaan Penunjang
a)    Laringoskopi : Cara memeriksa laring dengan melakukan inspeksi terhadap sisi luar laring pada leher dan gerakan-gerakan pada saat menelan. Pada kanker laring gerakan menelan akan bergerak ke bawah saat inspirasi atau tidak bergerak. Pada palpasi ditemukan adanya pembesaran dan nyeri.
b)   Pemeriksaan sinar x jaringan lunak : terdapat penonjolan pada tenggorokan.
c)    Pemeriksaan poto kontras : dengan penelanan borium menunjukkan adanya lesi-lesi loca
d)   Pemeriksaan MRI : identifikasi adanya metastasis dan evaluasi respon pengobatan.

c.    RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Biasanya suara serak adalah hal yang akan Nampak pada pasien dengan kanker pada daerah glottis, pasien mungkin mengeluhkan nyeri dan rasa terbakar pada tenggorokan, suatu gumpalan mungkin teraba di belakang leher. Gejala lanjut meiputi disfagia, dispnoe, penurunan berat badan.

d.   RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Riwayat kesehatan dahulu : adanya riwayat laryngitis kronis, riwayat sakit tenggorokan, riwayat epiglottis.

e.    RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA
Riwayat kesehatan keluarga :Riwayat anggota keluarga yang terdiagnosa positif kanker laring.

7.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.       Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.
b.      Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi (pengangkatan batang suara).
c.       Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan penekanan serabut syaraf oleh sel-sel tumor.
d.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan saluran pencernaan (disfagia).
e.       Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan leher.

8.    FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL
Menurut Doenges E. Marlyn ( 2000 ), dan Carpenito (1999), perencanaan dan intervansi keperawatan pada klien kanker laring adalah sebagai berikut :
1.    Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.
a.    Tujuan           : Klien dapat mempertahankan jalan nafas paten.
b.    Kriteria hasil             :Tidak sesak dan klien menunjukkan perilaku untuk memperbaiki jalan napas ,batuk efektif dan bunyi napas
c.    Intevensi       :
1)   Kaji frekuensi pernapasan catat rasio inspirasi atau ekspirasi
Rasional : pada kanker laring biasanya menyebabkan dipsnue
2)   Catat adanya derajat dipsnue misalnya keluhan lapar udara, gelisah, ansietas, disteres, pernapasan dan penggunaan otot bantu.
Rasional : disfungsi pernapasan merupakan proses kronis atau stadium akhir
3)   Auskuitasi bunyi napas, catat adanya bunyi napas.
Rasional : pada beberapa derajat kanker laring terjadi obstruksi jalan napas dan dapat atau tidak dimanifestasikan adanya bunyi napas.
4)   Atur posisi yang nyaman
Rasional : Mempermudah fungsi pernapasan.
5)   Dorong atau bantu klien latihan napas abdomen atau bibir
Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dipsnea dan menurunkan jebakan udara.
6)   Observasi karakteristik batuk misalnya menetap batuk pendek, batuk basah bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan upaya batuk.
d.   Kolaborasi
1)   Berikan bronkodilator
Rasional : merilekskan otot halus dan menurunkan kognesti lokal, menurunkan spasne jalan napas dan produk mukosa
2)   Xantin
Rasional : menurunkan edema mukosa dan spasme otot polos
3)   Berikan kromolin flunisunida ( aerobic )
Rasional : menurunkan edema
4)   Berikan antimikroba
Rasional : diindikasikan untuk mengontrol pneumonia.
5)   Berikan analgetik dan penekan batuk
Rasional : memungkinkan pasien untuk istirahat dan menghemat energi.
6)   Berikan humidifikasi
Rasional : kelembaban akan menurunkan kekentalan secret yang mempermudah pengluaran yang dap[at membantu menurunkan atau menjaga pembentukan mukosa tebal pada bronkus.
2.      Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi (pengangkatan batang suara).
a.    Tujuan         :  Pasien dapat berkomunikasi denganaktif.
b.    Kriteria hasil: Menidentifikasi pemahaman tentang masalh koomunikasi, membuat metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan menggunakan sumber-sumber yang tepat.
c.    Intervensi:
1)   Kaji tipe atau derajat disfungsi, kesulitan
Rasional : untuk menentukan terapi
2)   Bantu menentukan stadium penyakit perhatikan kesalahan dalam komunikasi dalam dan berikan umpan balik.
Rasional : pasien mungkin kehilangan kemampuan untuk memantau ucapan yang keluar dan tidak menyadari bahwa komunikaai yang diucapkan tidak nyata.
3)   Mintalah pasien untuk mengikutu perintah sederhana ( seperti buka ,mata tunjuk kepintu ) ulangi dengan kata atau kalimat yang sederhana.
Rasional : melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensor
4)   Berkan metode komunikasi alternative, seperti menulis di papan tulis, gambar. Berikan petunjuk visual ( gerakan tangan, gambar-gambar, daftar kebutuhan, demonstrasi )
Rasional : Memberikan komunikasi tentang kebutuhan berdasarkan keadaan atau defisit yang mandiri.
5)   Katakan secara langsung dengan pasien, bicara perlahan dan dengan tenang. Gunakan pertanyaan terbuka dengan jawaban ya atau tidak, selanjutnya kembangkan pada pertanyaan yang lebih kompleks sesuai respon pasien.
Rasional : menurunkan kebingungan atau ansietas selama proses komunikasi.
6)   Bicaralah dengan nada normal dan hindari percakapan yang cepat. Berikan pasien jarak waktu untuk berespon. Bicaralah tanpa tekanan terhadap sebuah respon.
7)   Rasional : pasien tidak perlu merusak pendengaran dan meninggikan suara dapat menimbulkan marah pasien atau menyebabkan kepedihan. Memfokuskan respon dapat mengakibatkan frustasi dan mungkin menyebabkan pasien terpaksa untuk bicara otomatis.
8)   Anjurkan pengunjung atau orang terdekat mempertahankan usahanya untuk berkomunikasi dengan pasien, seperti membaca surat, diskusi tentang hal-hal yang terjadi pada keluarga.
Rasional : mengurangi isolasi social pasien dan meningkatkan penciptaan komunikasi yangb efektif.

3.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan penekanan serabut syaraf oleh sel-sel tumor.
a.    Tujuan                : nyeri pada pasien sedikit berkurang dengan mengikuti    aturanpemakai farmakologis yang telah ditentukan dapat menggunakan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai indikasi.
b.    Kriteria hasil        : Menlaporkan penghilangan nyeri maksimal / control dengan pengaruh minimal pada AKS. Mengikuti farmokologis yang diperlukan, mendemonstrasikan penggunaan  keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan sesuai indikasi untuk situasi individu.
c.    Intervensi
1)   Tentukan riwayat nyeri misal : lokasi nyeri, frekuensi, durasi dan intensitas dan tindakan penghilang yang digunakan.
Rasional : informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan atau keefektifan intetrvensi.
2)   Berikan tindakan kenyamanan dasar ( misal reposisi, gosokan punggung,) dan aktivitas hiburan ( missal musik dan TV ).
Rasional : meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian.
3)   Dorong penggunaan keterampilan manajemen nyeri ( misal teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi ) tertawa, musik dan sentuhan terapeutik.
Rasional : memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan masa control.
4)   Evaluasi penghilangan nyeri atau control
Rasional : control nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS.
d.   Kolaborasi
1)   Kembangkan rencana manajemen nyeri dengan pasien dan dokter
Rasional : rencana terorganisasi mengembangkan kesempatan untuk control nyeri.
2)   Beri analgesic sesuai indikasi misal : bromstoms cocktail, morfin, metadon atau campuran narkotik IV khusus.
Rasional : nyeri adalah komplikasi sering dari kanker meskipun respon individual berbeda saat perubahan penyakit atau perubahan terjadi penilaian dosis dan pemberian akan diperliukan.
3)   Berikan penggunaan CPA dengan cepat
Rasional : analgesia dikontrol pasien sehingga pemberian obat tepat waktu, mencegah fruktuasi, pada intensitas nyeri, sering pada dosis total rendah akan diberikan melealui metode konvensional.


4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan saluran pencernaan (disfagia).
a.    Tujuan              : Nutrisi klien adekuat
b.    Kriteria hasil    : Mendemonstrasikan pemeliharaan kemajuan peningkatan BB sesuai tujuan, tidak mengalami tanda-tanda dalam rentan normal.
c.    Intervensi
1)   Kaji kemampuan pasien untuk mengunyah, menelan, batuk dan menangani sekresi.
Raasional : faktor ini menentukan pilihan terhadap jenis makanan sehingga pasien harus terlindung dari aspirasi.
2)   Auskultasi bising usus, catat adanya penurunan atau nilainya suara yang hiperaktif
Rasional : fungsi saluran pencernaan biasanya tetap baik, jadi bising usus membantu dalam menentukan respon untuk makan atau berkembangnya komplikasi seperti paralitik ilius.
3)   Timbang BB sesuai indikasi
Rasional : mengevaluasi keefektifan / kebutuhan mengubah pemberian nutrusi.
4)   Berikan makan dalm jumlah kecil dan dalam waktu sering dengan teratur.
Rasional : Meningkatkan prosese pencernaan dan toleransi pasien terhadap nutrisi yang diberikan dan dapat meningkatkan kerja sama pasien saat makan.
5)   Tingkatkan kenyamanan lingkungan yang sama termasuk sosialisasi saat makan. Anjurkann oranhg terdekat untk membawa yang disukai pasien.
Rasional : meskipun proses penilaian pasien memerlukan bantuan makan dan menggunakan alat Bantu, sosialisasi waktu makan dengan orang terdekat atau teman dapat meningkatakan pemasukan.
6)   Kaji feses, cairan lambung, muntah darah dan sebagainya.
Rasional : Pendarahan subakuat / akut dapat terjadi

5.      Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan leher
a.    Tujuan         : Menunjukkan konsep diri yang bagus.
b.    Kriteria hasil           :Mampu mengungkapkan kenyataan secara fealietis dan   penerimaan terhadap suaranya, mampu mengenali dan bekerja sama dalam perubahan konsep diri peran tanpa menimbulkan harga diri rendah mampu mengembangkan perencanaan yang realistis untuk mengadaptasi perubahan peran
c.    Intervensi
1)   Ciptakan atau pertahankan hubungan terapeuitik pasien perawat, Diskusikan perasaan takut atau hal yang dipikirkan pasien.
Rasional : Meremehkan sikap peduli dan mengembangkan rasa saling percaya antara pasien dengan perawat, dimana pasien bebas mengekspresikan ketakutan ditolak hilangnya fungsi suara yang dimiliki sebelumnya, tidak berdaya mengenai perubahan yang terjadi.
2)   Catat tingkah laku menarik diri, sikap menyangkal atau terlalu memungkirkan proses penyakitnya.
Rasional : Awalnya mungkin merupakan respon yang normal tapi jika berkepanjangan bisa menghalangi untuk menghadapi kenyataan seharusnya dan dapat menurunkan ke arah koping yang tidak efektif.
3)   Jelaskan bahwa emosi yang labil adalah wajar. Pemecahan masalah merupakan langkah untuk menangani masalah ini.
Rasional : Menghilangkan kecemasan dan membantu usah untuk menangani munculnya emosi yang tidak diharapkan.
4)   Beri masukan pada klien untuk memodifikasi gaya berpakaian untuk meningkatkan konsep diri seperti memakai jilbab pada perempuan, menggunakan sal atau baju dengan kerah tertutup.


DAFTAR PUSTAKA
Bites Barbara dkk, 1998 . Buku Saku Pemeriksaan dan Riwayat Kesehatan. Edisi 2. Jakarta : EGC
Carpenito Lynda Juall. 1999. Rencana suhanA Keperawatan dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. Jakarta : EGC
C. Long Barbara. 1996. Perawatan Medikal Bedah. Bandung:IAPK Pajajaran
Doenges. E. Marilyn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC
Sjamsuhidayat. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC
Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol 2. Edisi 8. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar